Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memahami Bagaimana Proses Terjadinya Salju

Proses Terjadinya Salju

Indonesia tidak memiliki musim dingin. Artinya, apabila Anda tinggal di Indonesia maka tidak akan pernah merasakan apa itu yang namanya salju, kecuali apabila Anda pergi ke Puncak Jaya di pegunungan Jayawijaya karena di sana ada salju abadi, atau alternatif yang lebih mudah tentu saja mengunjungi negara yang ada musim dinginnya.

Walau demikian, tidak ada salahnya untuk kita belajar mengenai apa itu salju. Jadi, menurut metroffice.gov.uk, salju didefinisikan sebagai presipitasi padat yang terjadi dalam berbagai kristal es kecil pada suhu jauh di bawah 0 °C, tetapi untuk kepingan salju yang ukurannya lebih besar terjadi pada suhu mendekati 0 °C.

Bagaimana Proses Terbentuknya Salju?

Salju terbentuk ketika suhu atmosfer (awan) berada pada atau di bawah titik beku (0°C atau 32°F) dan ada kelembapan di atmosfer dalam bentuk kristal es kecil.

Kemudian, kristal es kecil di awan saling menempel menjadi kepingan salju. Ketika cukup banyak kristal yang saling menempel, mereka akan menjadi cukup berat untuk jatuh ke tanah.

Kepingan salju yang turun melalui udara lembab yang sedikit lebih hangat dari 0 °C akan meleleh di sekitar tepinya dan saling menempel untuk menghasilkan serpihan besar.

Sementara itu, kepingan salju yang jatuh melalui udara dingin dan kering menghasilkan bubuk salju yang tidak saling menempel.

Salju akan mencapai tanah apabila suhu pada tanah berada pada atau di bawah titik beku. Namun, salju masih bisa mencapai tanah saat suhu tanah di atas titik beku jika kondisinya pas.

Dalam hal ini, kepingan salju akan mulai mencair saat mencapai lapisan suhu yang lebih tinggi, pencairan menciptakan pendinginan evaporatif yang segera mendinginkan udara di sekitar kepingan salju, alhasil pendinginan ini memperlambat pencairan.

Namun, sebagai aturan umum, salju tidak akan terbentuk jika suhu tanah setidaknya 5°C (41°F).

Terlalu Dingin untuk Bersalju

Ada ungkapan bahwa “tidak bisa terlalu dingin untuk bersalju.” Apa itu artinya? Salju dapat terjadi bahkan pada suhu yang sangat rendah, asalkan ada sumber kelembapan dan cara untuk mengangkat atau mendinginkan udara.

Namun, memang benar bahwa sebagian besar hujan salju lebat terjadi ketika ada udara yang relatif hangat di dekat tanah yang biasanya -9°C (15°F) atau lebih hangat. Ini karena udara yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak uap air.

Karena pembentukan salju membutuhkan kelembapan, daerah yang sangat dingin tetapi sangat kering jarang menerima salju.

Lembah Kering Antartika, misalnya, membentuk bagian benua bebas es terbesar. Lembah Kering cukup dingin tetapi memiliki kelembapan yang sangat rendah, dan angin kencang membantu menghilangkan kelembapan yang tersisa dari udara. Akibatnya, wilayah yang sangat dingin ini hanya menerima sedikit salju.

Salju dapat terjadi ketika atmosfer 'harus' mengandung uap air untuk menghasilkan salju. Sementara itu, udara yang sangat dingin mengandung sangat sedikit kelembaban.

Setelah suhu udara di permukaan tanah turun di bawah sekitar -10 derajat Fahrenheit (-20 derajat Celcius), hujan salju menjadi tidak mungkin terjadi di sebagian besar tempat. Oleh karena itu, hujan salju yang signifikan pada suhu yang sangat rendah seperti itu jarang terjadi.

Warna Salju

Secara umum salju dan es seolah-olah memiliki warna putih yang seragam. Ini karena cahaya tampak berwarna putih.

Hampir semua cahaya tampak yang menerpa permukaan salju atau es dipantulkan kembali tanpa preferensi khusus untuk satu warna.

Sebagian besar bahan alami menyerap sinar Matahari yang memberi mereka warna. Salju bersih, bagaimanapun, memantulkan sebagian besar sinar Matahari yang tampak sehingga menciptakan penampilan putih.

Namun, salju juga bisa tampak biru. Misalnya, jika Anda membuat lubang di salju dan melihat ke dalam lubang, Anda mungkin melihat warna kebiruan.

Dalam setiap kasus, cahaya biru adalah produk dari jalur perjalanan (cahaya) yang relatif panjang melewati salju atau es.

Dalam hal ini, lapisan es atau salju berperan sebagai filter. Jika tebalnya salju atau es hanya satu sentimeter (0,39 inci) maka semua cahaya dapat menembusnya, tetapi jika tebalnya sekitar satu meter (3,3 kaki) maka hanya sebagian besar cahaya biru dapat menembusnya.

Proses Terjadinya Salju
(Watermelon Snow - Image Credit: National Snow and Ice Data Center)

Partikel atau organisme di dalam tumpukan salju juga dapat memengaruhi warna salju. Salju semangka (Watermelon snow), misalnya, tampak merah atau merah muda.

Pewarnaan ini disebabkan oleh bentuk cryophilic atau ganggang air tawar yang menyukai dingin dan mengandung pigmen merah cerah.

Salju semangka paling umum terjadi selama musim panas di daerah pegunungan tinggi serta di sepanjang daerah kutub pesisir. Selain itu, partikel berwarna gelap seperti debu dan jelaga juga dapat mengubah penampilan salju.


Referensi:

  • https://nsidc.org/learn/parts-cryosphere/snow/science-snow
  • https://www.metoffice.gov.uk/weather/learn-about/weather/types-of-weather/snow/how-does-snow-form#:~:text=Snow%20forms%20when%20tiny%20ice,to%20fall%20to%20the%20ground.
  • https://www.scientificamerican.com/article/what-is-the-meaning-of-th/#:~:text=But%20the%20atmosphere%20must%20contain,becomes%20unlikely%20in%20most%20places.